FILM DAN POLITIK KEBUDAYAAN : ANALISA SEMIOTIK RELASI KEKUASAAN DALAM FILM EXHUMA

Penulis

  • Riza Azahra Choirunnisa Penulis
  • Franky Paulus Sutan Roring Penulis

Abstrak

Penelitian ini menganalisis film Exhuma (2024) sebagai refleksi politik kebudayaan Korea Selatan, dengan fokus pada representasi relasi kekuasaan, mitos, dan dominasi. Menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, penelitian ini mengidentifikasi bagaimana tanda dan simbol dalam film digunakan untuk mereproduksi sekaligus menantang narasi dominan tentang identitas dan sejarah bangsa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini menggunakan mitos-mitos kultural, seperti fengshui dan penghormatan leluhur, sebagai alat untuk merebut kekuasaan dari dominasi ekonomi dan rasionalitas modern. Simbol-simbol seperti "Rubah yang melukai pinggang Harimau" dan pasak besi berfungsi sebagai alegori yang kuat untuk trauma sejarah penjajahan Jepang yang tertanam di tanah Korea. Film ini menunjukkan bahwa alih-alih dilupakan, luka sejarah tersebut termanifestasi sebagai kutukan spiritual yang hanya dapat dilawan melalui kekuatan budaya dan spiritualitas asli Korea. Kesimpulannya, Exhuma bukan sekadar film horor, melainkan sebuah pernyataan politik kebudayaan yang berani, menegaskan bahwa identitas nasional terjalin erat dengan mitologi, sejarah, dan perjuangan melawan warisan kolonial.

 

Kata Kunci: Politik Kebudayaan, Relasi Kekuasaan, Film Exhuma, Semiotika.

Biografi Penulis

  • Riza Azahra Choirunnisa

    Mahasiswi Ilmu Politik FISIP Universitas Bung Karno 2021-2025

  • Franky Paulus Sutan Roring

    Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Bung Karno

Diterbitkan

2026-04-18